Filsafat Pendidikan Islam


PONDOK PESANTREN SEBAGAI BASIS PENDIDIKAN ISLAM
MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Individu
Semester II Program Setrata I (S1) Fakultas Tarbiyah Kelas .C
Mata Kuliah : Filsafat Pendidikan Islam
Dosen
Drs. H. Dawamudin, M.Ag

0leh
AMAD NUR SAEFUL ANWAR
NIM   : 2103905

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA
(STAINU ) KEBUMEN
 2011





KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum. wr.wb.
Alhamdulillah segala puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan banyak kenikmatan, berupa segala yang telah dirasakan dalam kehidupan ini. Satu diantaranya adalah pemberian ilmu dan kemampuan menuangkannya kedalam bentuk tulisan serta menjadikannya kedalam bentuk makalah yang berjudul “Pondok Pesantren Sebagai Basis Pendidikan Islam”.
 Sholawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada beliau Nabi Akhiruz zaman yaitu Nabi Muhammad SAW, keluarga serta para sahabat-sahabat Baginda.
Penulis berkewajiban menyampaikan ucapan terima kasih kepada para dosen dan guru besar yang mana penulis banyak menimba ilmu dari padanya, khususnya Yth. Drs. H. Dawamudin, M.Ag yang telah memberikan ilmu baru dalam mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam.
Makalah ini tentu saja jauh dari sempurna, karenanya penulis senantiasa mengharapkan masukan dan kritik dari pembaca. Meski disadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, namun penulis tetap berharap bahwa tulisan ini bisa bermanfaat. Amin.
Akhir kata, dengan tangan terbuka dan rasa tanggung jawab kami mengharapkan kritik, dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca yang budiman, yang kiranya dapat meningkatkan motivasi dalam belajar.

Wassalamu’alaikum.wr.wb.

                                                                                                    Kebumen, …….. 2011
                                                                                                         PENULIS




BAB I
PENDAHULUAN

1.        Latar Belakang Masalah
Pesantren sebagai lembaga yang mengiringi dakhwah islamiyah di Indonesia memiliki persepsi yang plural. Pesantren bisa dipandang sebagi lembaga ritual, lembaga pembinaan moral, lembaga dakwah, dan yang paling populer adalah sebagi institusi pendidikan islam yang mengalami konjungtur dan romantika kehidupan dalam menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal.
Sebagai lembaga pendidikan, pesantren telah eksis di tengah masyarakat selama enam abad ( mulai abad ke-15 hingga sekarang ) dan sejak  awal berdirinya menawarkan kepada mereka yang masih buta huruf. Pesantren pernah menjadi satu-satunya institusi pendidikan milik masyarakat pribumi yang memberikan kontribusi sangat besar dalam membentuk masyarakat melek huruf dan melek budaya.
 Jalaluddin bahkan bahkan paling tidak pesantren telah memberikan dua macam konstribusi bagi sistem pendidikan di indonesia. Pertama, adalah melestarikan dan melanjutkan sistem pendidikan rakyat, dan kedua, mengubah sistem pendidikan aristokrasi menjadi sistem pendidikan demokratis.
Pesantren tumbuh dari bawah, atas kehendak masyarakat yang terdiri atas : kiai, santri, dan masyarakat sekitar, terkadang perangkat desa.

2.        Rumusan Masalah
Adapun masalah-masalah yang akan dibahas yakni sebagai berikut:
  1.  Definisi pondok pesantren menurut para ahli pondok pesantren ?...............
  2. Tujuan umum pesantren dalam membina kehidupan serta menjadikannya sebagai orang yang berguna bagi agama, masyarakat, dan negara ?.............
  3. Apa saja jenis-jenis metode yang di transformasikan dalam pendidikan di pesantren ?........................


BAB II
PEMBAHASAN

A.       PENGERTIAN PESANTREN SECARA TERMINOLOGI
Istilah Pesantren biasa disebut dengan pondok saja atau kedua kata ini digabung menjadi pondok pesantren. Pondok pesantren menurut M. Arifin berarti, Suatu lembaga pendidikan Agama Islam yang tumbuh serta diakui masyarakat sekitar, dengan sistem asrama ( komplek ) di mana santri-santri menerima pendidikan agama melalui sistem pengajian atau madrasah yang sepenuhnya berada di bawah kedaulatan dari leadership seorang atau beberapa orang Kiai dengan ciri-ciri khas yang bersifat karismatik serta independen dalam segala hal.
Lembaga Research Islam ( pesantren leluhur ) mendefinisikan pesantren adalah “suatu tempat yang tersedia untuk para santri dalam menerima pemlajaran-pelajaran agama islam sekaligus tempat berkumpul dan tempat tinggalnya”.
Menurut para ahli pesantren baru dapat disebut pesantren bila memenuhi lima syarat, yaitu :
1.       Kiai pesantren, mencakup ideal kiai untuk zaman kini dan nanti.
2.       Pondok, mencakup syarat-syarat fisik dan nonfisik, pembiayaan, tempat, penjagaan.
3.       Masjid, cakupannya sama dengan pondok
4.       Santri, meliputi masalah syarat, sifat dan tugas santri.
5.       Kitab kuning, mencakup kurikulum pesantren dalam arti luas.

B.       TUJUAN PESANTREN
Pesantren sebagai lembaga pendidikan tidak memiliki formulasi tujuan yang jelas, baik dalam tataran institusional, kurikuler maupun instruksional umum dan khusus. Tujuan yang dimilikinya hanya ada dalam angan-angan. Pokok persoalannya bukan terletak pada ketiadaan tujuan, melainkan tidak tertulis tujuan. Seandainya pesantren tidak memiliki tujuan, tentu aktivitas di lembaga pendidikan islam yang menimbulkan penilaian kontroversial ini tidak mempunyai bentuk yang konkret. Proses pendidikan akan kehilangan orientasi sehingga berjalan tanpa arah dan menimbulkan kekacauan ( chaos ).
Tujuan umum pesantren adalah membina warga negara agar berkepribadian muslim sesuai dengan ajaran-ajaran agama islam dan menanamkan rasa keagamaan tersebut pada semua segi kehidupannya serta menjadikannya sebagai orang yang berguna bagi agama, masyarakat, dan negara.
Menurut Mastuhu ada delapan tujuan pendidikan pesantren adalah sebagai berikut :
1.      Memiliki kebijaksanaan menurut ajaran islam.
Anak didik dibantu agar mampu memahami makna hidup, keberadaan, peranan, serta tanggungjawabnya dalam kehidupan di masyarakat.
2.      Memiliki kebebasan yang terpimpin.
 Setiap manusia memiliki kebebasan, tetapi kebebasan itu harus dibatasi karena kebebasan memiliki potensi anarkisme. Keterbatasan ( ketidak bebasan ) mengandung kecenderungan mematikan kreativitas, karena itu pembatasan harus dibatasi.
3.      Berkemampuan mengatur diri sendiri.
 Di pesantren, santri mengatur sendiri kehidupannya menuruti batasan yang diajarkan agama. Ada unsur kebebasan dan kemandirian disini. Bahkan masing-masing pesantren juga mengatur dirinya sendiri.
4.      Memiliki rasa kebersamaan yang tinggi.
Dalam hal kewajiban, individu harus menunaikan kewajiban lebih dahulu, sedangkan dalam hal hak, individu harus mendahulukan kepentingan orang lain sebelum kepentingan diri sendiri.
5.      Menghormati orang tua dan guru.
Tujuan ini dicapai antara lain melalui penegakan berbagai pranata di pesantren seperti mencium tangan guru, tidak membantah guru. Demikian juga terhadap orang tua. Nilai ini agaknya sudah banyak terkikis di sekolah-sekolah umum.
Dalam hal ini, ada satu hadist n Nabi:

عن أبى هريرة قال جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه والسلام فَقَالَ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوْكَ

“Menurut Abu Hurairah RA telah diceriterakan :“Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW menanyakan : “Siapakah orang yang lebih berhak untuk saya berbuat baik padanya?” Jawab Nabi : “Ibumu.” Tanya laki-laki: “Sesudah itu siapa ?” Jawab Nabi : “Ibumu.” Tanya laki-laki :”Sesudah itu Siapa?” Jawab Nabi : “Ibumu.” Tanya laki-laki : “Sesudah itu siapa?” Jawab Nabi : “Sesudah itu Bapakmu”.

عن عبدالله بن عمرو قال جاء رجل الى النبى صلى الله عليه والسلام يَسْتَأْذِنُهُ فِى الْجِهَادِ فَقَالَ أَحَىٌّ وَالِدَاكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيْهِمَا فَجَاهِدْ

Menurut Abdullah bin Amru RA dikatakan : “Datang seorang laki-laki kepada Nabi SAW meminta supaya diizinkan turut berperang. Nabi bertanya : “Masih hidupkah kedua orang tuamu?” Dia menjawab : “Ya (masih hidup)!” Sabda Nabi : “Hendaklah engkau berjihad, untuk kebaikan keduanya.”
6.      Cinta kepada ilmu.
Menurut Al-Qur’an ilmu datang dari Allah SWT. Karena itu orang-orang pesantren cenderung memandang ilmu sebagai sesuatu yang suci dan tinggi.
7.      Mandiri.
 Mandiri yang dimaksud adalah berdiri atas kekuatan sendiri. Sejak awal santri telah dilatih untuk mandiri. Merka kebanyakan memasak sendiri, mengatur uang belanja sendiri. Metode sorogan yang individual juga memberikan pendidikan kemandirian.
8.      Kesederhanaan.
Secara lahiriah sederhana memang mirip dengan miskin. Yang dimaksud sederhana di pesantren adalah sikap hidup, yaitu sikap memandang sesuatu, terutama materi, secara wajar, proporsional, dan fungsional.
Keunggulan utama pada pendidikan pesantren adalah penanaman keimanan.
Penanaman iman itu bukan terutama penanaman konsep di kepala sebagaimana di lakukan oleh kebanyaka guru agama sekarang. Di pesantren dilakukan lewat contoh terutama dari kehidupan kiai, pembiasaan, peraturan kedisiplinan, ibadah, dan kondisi umum kehidupan pesantren itu sendiri.
Iman itu bertempat di hati, bukan di kepala.
Q.S. Al-Hujarat: 14
14.  Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami Telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi Katakanlah 'kami Telah tunduk', Karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Q.S. Al-Ma’idah: 41

41.  Hari rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:"Kami Telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong[415] dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu[416]; mereka merobah[417] perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. mereka mengatakan: "Jika diberikan Ini (yang sudah di robah-robah oleh mereka) kepada kamu, Maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan Ini Maka hati-hatilah". barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, Maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.

C.       MATERI DASAR-DASAR KEISLAMAN DAN ILMU KEISLAMAN
Ketika masih di langgar atau masjid, kurikulum pengajian masih dalam bentuk yang sederhana, yakni berupa inti ajaran Islam yang mendasar. Rangkaian trio komponen ajaran islam yang berupa iman, islam, dan ihsan atau doktrin, ritual, dan mistik telah menjadi perhatian kiai perintis pesantren sebagai isi kurikulum yang diajarkan kepada santrinya. Sebaba disesuaikan dengan tingkat intelektual dengan masyarakat dan kualitas keberagamaan pada waktu itu. Aya Sifia et al, melaporkan bahwa isi pengajian itu berkisar pada soal rukun iman, rukun islam, akhlak, dan ilmu hikmah atau tasawuf.
Peralihan dari langgar atau masjid lalu berkembang menjadi pondok pesantren ternyata membawa perubahan materi pengajaran.[1] Dari sekedar pengetahuan menjadi ilmu. Dari materi yang hanya bersifat doktrinal menjadi lebih interpretatif kendati dalam wilayah yang sangat terbatas. Mahmud yunus mencatat, “ilmu yang mula-mula diajarkan di pesantren adalah ilmu sharaf dan nahwu, kemudian ilmu fiqih, tafsir, ilmu kalam ( tauhid ), akhirnya sampai kepada ilmu tasawuf dan sebagainya.
Dalam perkembangan selanjutnya , santri perlu diberikan bukan hanya ilmu-ilmu yang terkait dengan ritual keseharian yang bersifat praktis-pragmatis, melainkan ilmu-ilmu yang berbau penalaran yang menggunakan referensi wahyu seperti ilmu kalam, bahkan ilmu-ilmu yang menggunakan cara pendekatan yang tepat kepada Allah seperti tasawuf.
1.      Tauhid memberikan pemahaman dan keyakinan terhadap keesaaan Allah.
2.      Fiqih memberikan pemahaman cara-cara beribadah sebagai konsekuensi logis dari keimanan yang telah dimiliki seseorang.
3.      Tasawuf membimbing seseorang pada penyempurnaan ibadah agar menjadi orang yang benar-benar dekat dengan Allah.
Kapasitas dan kecenderungan kiai merupakan faktor yang menentukan pengembangan kurikulum tersebut.[2] Ilmu-ilmu yang diajarkan di pesantren pada mulanya haruslah imu-ilmu yang telah dikuasai kiai dan telah menjadi kecenderungannya seperti ilmu tasawuf.
Para kiai umumnya memiliki kecenderungan yang kuat pada tasawuf baik pada tataran amalan maupun keilmuan yang merupakan pewarisan terhadap sosok para wali.
Penambahan dan Perincian Materi Dasar
Hasil penelitian L.W.C. Van den Berg sebagaimana yang dikutip Steenbrinnk bahwa materi tersebut meliputi fiqih, tata bahasa Arab, ushul al-Din, tasawuf, dan tafsir.
Beberapa laporan mengenai materi pelajaran tersebut dapat disimpulkan : Al-Qur’an dengan tajwid dan tafsirnya, aqaid dan ilmu kalam, fiqih dengan ushul fiqh, hadits dengan musththalah hadits, bahasa arab dengan ilmu alatnya seperti nahwu, sharaf, bayan, ma’ani, badi’ dan ‘arudh, tarikh, mantiq, tasawuf, akhlak dan falak. Tidak semua pesantren mengajarkan ilmu tersebut secara ketat.

D.       PERANAN PESANTREN
Peranan paling menonjol di masa penjajahan adalah dalam menggerakan , memimpin dan melakukan untuk mengusir penjajah. Kemudian ikut memprakarsai berdirinya Negara Republik Indonesia.
Disamping itu pesantren juga berperan dalam bebagai bidang lainnya secara multidimensional baik berkaitan langsung dengan aktivitas-aktivitas pendidikan pesantren maupun di luar wewenangnya.
Dalam mendukung Keluarga Berencana, Zaeni menegaskan, “sesungguhya pondok pesantren mempunyai peranan yang cukup besar dalam memasukan gagasan dan mendorong Keluarga Berencana ( KB ) sebagai wahana untuk kualitas manusia dan kesejahteraan keluarga”.
Pesantren juga terlibat langsung menanggulangi bahaya narkotika. Wahid menyatakan bahwa di salah satu pesantren besar di jawa timur, seorang kiai mendirikan sebuah SMP, untuk menghindari penggunaan narkotika di kalangan santri yang aslnya putra putri mereka disekolahkan diluar pesantren. Bahkan pondok pesantren Suryalaya sejak 1972 telah aktif membantu pemerintah dalam masalah narkotika dengan mendirikan lembaga khusus untuk menyembuhkan korbannya yang disebut “Pondok Remaja Inabah”.
Hanya saja dalam kaitan dengan peran tradisionalnya, sering diidentifikasi memiliki tiga peran penting dalam masyarakat Indonesia:
  1.  Sebagai pusat berlangsungnya transmisi ilmu-ilmu Islam tradisional.
  2.  Sebagai penjaga dan pemilahara keberlangsungan Islam tradisional.
  3.   Sebagai pusat reproduksi ulama.
E.        TRANSFORMASI METODE PENDIDIKAN PESANTREN
Kategori pesantren tradisional dan modern ternyata mengakibatkan perubahan metode. Departemen Agama RI melaporkan bahwa metode penyajian atau penyampaian di pesantren ada yang bersifat tradisional seperti balaghah, wetonan, dan sorogan. Metode yang non tradisional ( metode yang baru diintrodusir ke dalam institusi tersebut berdasarkan pendekatan ilmiah ). Menurut Arifin metode di pondok pesantren terdiri atas: metode wetonan, metode sorogan, metode muhawarah, metode mudzakarah, dan metode majlis ta’lim.
Pengertian Metode-Metode Tradisional
1.    Metode Sorogan merupakan suatu metode yang ditempuh dengan cara guru menyampaikan pelajaran kepada santri secara individual, biasanya di samping di pesantren juga dilangsungkan di langgar, masjid atau terkadang di rumah-rumah. Penyampaian pelajaran kepada santri bergilir ini biasanya dipraktekan pada santri yang jumlahnya sedikit. Sasaran metode ini adalah kelompok santri pada tingkat rendah yaitu mereka yang baru menguasai pembacaan Al-Qur’an. Melalui sorogan , perkembangan intelektual santri dapat ditangkap kiai secara utuh. Metode sorogan justru mengutamakan kematangan dan perhatian serta kecakapan seseorang.
2.    Metode Wetonan atau disebut Bandongan adalah metode yang paling utama di lingkungan pesantren. Zamakhsyari Dhofier menerangkan bahwa metode wetonan ialah suatu metode pengajaran dengan cara guru membaca, menterjemahkan, menerangkan dan mengulas buku-buku Islam dalam Bahasa Arab sedang sekelompok santri mendengarkannya. Mereka memperhatikan bukunya sendiri dan membuat catatan-catatan tentang kata-kata atau buah pikiran yang sulit. Penerapan metode ini mengakibatkan santri bersikap pasif. Wetonana dalam prakteknya selalu berorientasi pada pemompaan materi tanpa melalui kontrol tujuan yang tegas. Bandongan ini merupakan hasil adaptasi dari metode pengajaran agama yang berlangsung di timur tengah terutama di mekah dan Al-Azhar, Mesir.
Metode bandongan, para santri memperoleh kesempatan untuk bertanya atau meminta penjelasan lebih lanjut atas keterangan kiai.
3.    Metode Ceramah: Metode sorogan dan wetonan mengalami pergeseran menjadi ceramah menunjukkan bahwa orientasi pengajaran secara praktis-pragmatis terhadap santri-santri yang belum memiliki dasar ilmu alat yang kuat. Metode ceramah justru mengakibatkan santri menjadi lebih pasif.
4.    Metode Muhawarah adalah suatu kegiatan berlatih bercakap-cakap dengan bercakap-cakap yang diwajibkan pesantren kepada santri selama mereka tinggal di pondok.
5.    Metode Mudzakarah merupaka suatu pertemuan ilmiah yang secara spesifik membahas masalah diniyyah seperti: aqidah, ibadah, dan masalah agama pada umumnya. Aplikasi metode ini dapat membangkitkan semangat intelektual santri. Mereka diajak berpikir ilmiah dengan menggunakan penalaran-penalaran yang disandarkan pada Al-Qur’an dan Al-Sunnah serta kitab-kitab islam klasik. Namun penerapan metode ini belum bisa berlangsung secara optimal. Ketika santri membahas aqidah dan ibadah khususnya, selalu dibatasi pada madzhab tertentu. Materi aqidah atau kalam dibatasi pada paham Asy’ariyyah, sedang dalam materi ibadah dibatasi pada pemahaman fiqhiyyah Imam Syafi’i. Metode ini bahkan diminati kiai yang tergabung dalam forum Bahtsul Masail.
6.    Metode Majelis Ta’lim adalah suatu metode penyampaian ajaran Islam yang bersifat umum dan terbuka, yang dihadiri jama’ah yang memiliki latar belakang pengetahuan, tingkat usia, dan jenis kelamin. Sebagaimana pengajian melalui wetonan maupun bandongan. Pengajian


 

BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Dari uraian-uraian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:
Pesantren adalah sistem pendidikan yang tumbuh dan lahir dari kultur Indonesia yang bersifat indegenous. Lembaga inilah yang dilirik kembali sebagai model dasar pengembangan konsep pendidikan ( baru ) Indonesia.
Profil kepemimpinan kiai yang karismatik sehingga menimbulkan sikap otoriter dan berkuasa mutlak diprediksi tidak mampu bertahan lama. Kaderisasi hanya terbatas pada keturunan, menyebabkan tidak ada kesiapan menerima tongkat estafet kepemimpinan ayahnya. Tidak semua putra kiai memiliki kemampuan, orientasi dan kecenderungan yang sama dengan ayahnya. Di sisi lain, pihak luar hampir tidak pernah diberikan kesempatan mengendalikan pesantren. Orang luar, kecuali menantu tidak berani melanjutkan kepemimpinan kiai sebagai pengasuh meskipun memiliki potensi yang cukup sebab bukan jalur keturunannya. Keharuman pesantren sebagai pusat kajian keislaman, pusat dakwah dan lembaga sosial tinggal dalam lintas sejarah masa lampau yang sulit dikembalikan.
Yang menjadi ukuran masyarakat adalah wawasan sosial, organisasi modern, pluralisme keilmuan dan sebagainya. Masalah ini tidak pernah di perhitungkan sama sekali di dalam materi pendidikan di pesantren. Kini pesantren menghadapi tantangan baru, yaitu pembangunan, kemajuan, pembaharuan, serta tantangan keterbukaan dan globalisasi.

B.       Saran
Penulis menyadari makalah ini masih banyak kekurangan disana-sini. Dan mengharapkan saran, masukan, dan kritikan yang sifatnya membangun dari pembaca yang bisa sebagai referensi atau instropeksi membangun sebuah makalah sebagai bahan rujukan bersama.
Jangan bosan untuk selalu berproses dan berproses.


[1] Menurut Abdurrahman Wahid, masjid sebagai tempat mendidik dan menggembleng santri agar lepas dari hana nafsu, berada ditengah-tengah komplek pesantren adalah mengikuti model wayang. Di tengah-tengah ada gunung.
[2] Muhammad Tholchah Hasan melihat kiai dari empat sisi yakni kepemimpinan ilmiah, spiritualitas, sosial, dan administrasinya.


DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Tafsir. 1991. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mujamil Qomar, M.Ag. 1993. Pesantren Dari Transformasi Metodologi Demokrasi Institusi. Jakarta: Erlangga.










Poskan Komentar - Back to Content